<strong>Dewan Pakar ICAST Paparkan Institusi Wakaf Instrumen Penurunan Angka Kemiskinan di Yinchuan, China</strong>

dewan-pakar-icast-paparkan-institusi-wakaf-instrumen-penurunan-angka-kemiskinan-di-yinchuan-china

Wakaf sebagai sebuah institusi yang lahir dari rahim Islam terus dikaji dan dipraktikkan. Salah satu peran penting wakaf dalam perekonomian yaitu fungsinya yang mampu berkontribusi positif dalam menurunkan angka kemiskinan. Kemiskinan yang menjadi tajuk primadona dalam diskursus ahli ekonomi terus diupayakan pengentasannya. Pemerintah China bekerjasama dengan Chinese Academy for Social Science menyelenggarakan program bertema “International Symposium on Innovative Anti-Poverty Theory” di Yinchuan, 17-19 Agustus 2023.

Simposium berlevel dunia ini bertujuan untuk memperbaiki konsep pemberantasan kemiskinan yang kerap menjadi tantangan peradaban. Tuan rumah menentukan beberapa pakar dan professor di bidang terkait sebagai undangan khusus pemerintah. Salah satunya adalah Assoc. Prof. Dr. Akhmad Affandi Mahfudz selaku Dewan Pakar ICAST UNIDA Gontor. Kandidat guru besar ini hadir langsung bersama undangan lainnya yang berasal dari Argentina, Afrika Selatan, Brazil, India, Inggris, Irlandia, dan sejumlah pejabat teras Bank Dunia.

Dalam forum pembahasan analisis kebijakan dalam pengentasan kemiskinan, dosen Pascasarjana UNIDA Gontor ini mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan hasil penelitiannya. Artikel akademik berjudul “Islamic Charitable Donations as an Instrument Policy for Poverty Reduction: Is It Effective for Indonesia?” berhasil mendapat atensi luar biasa karena keunikan nilai dan sistem pengelolaan wakafnya dari para pakar dan akademisi yang hadir. Secara umum, isi pemikirannya adalah tentang bagaimana unit usaha di Gontor sebagai institusi berbasis wakaf mampu berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan baik bagi internal lembaga maupun para stakeholders sekitar. Karya ilmiah tersebut merupakan hasil buah fikir bersama kandidat doktor wakaf Andi Triyawan, M.A., dosen prodi Ekonomi Islam.

Forum ilmiah tersebut juga dibentangkan penelitian dari pelbagai negara dan disiplin ilmu. Sesuai jadwal presentasi yang tercantum, setelah pemateri dari UNIDA Gontor, diantaranya yaitu Jins Varkey, dari St. Aloysius College, Inggris, dan Leizhen Zang, dari China Agriculture University, China, dan Huang Chen, dari Xiamen University, China. Acara akademik ini turut dimoderatori oleh Ting Zuo, dari China Agriculture University dan didapuk sebagai reviewer adalah Baozhong Su, selaku Direktur Editorial, China Agriculture Economic Review. Suasana akademik sarat ilmu ini disampaikan dalam bahasa Inggris yang sangat baik.

Selepas agenda formal, Pemerintah Tiongkok selanjutnya memberi kesempatan kepada para narasumber utama termasuk perwakilan UNIDA Gontor, menuju ke beberapa lokasi di daerah Hongsibu. Distrik ini berdekatan dengan perbatasan Mongolia yang merupakan resettlement area yang mulanya daerah gurun tandus kemudian dikonversi menjadi lahan pertanian subur yang bertujuan untuk menekan angka kemiskinan. Saat kunjungan tersebut, utusan UNIDA Gontor senantiasa berdiskusi dengan Pemerintah setempat dan diminta pendapatnya tentang program resettlement area tersebut utamanya sinergi dengan konsep wakaf yang telah dilakukan oleh Gontor selama 100 tahun.

Pakar dari World Bank maupun Chinese Academy for Social Science sangat tertarik dengan konsep wakaf yang mampu berkontribusi positif bagi pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu, saat penutupan simposium, Dewan Pakar ICAST ini, diminta sekali lagi untuk menjelaskan kembali sekaligus mewakili para narasumber undangan untuk menyampaikan ringkasan dari segenap pemikiran yang telah disampaikan dalam forum. Hal ini tentu merupakan sebuah pengakuan global terhadap Gontor baik sebagai universitas berbasis wakaf juga segenap pihak yang terlibat langsung dalam pengelolaan wakaf. Dalam usianya yang tahun ini genap 1 abad, Gontor sebagai sebuah lembaga pendidikan terus berupaya untuk menghadirkan nilai-nilai Islam, membangun peradaban utama. Peradaban ilmu yang terus diperjuangkan demi pengejawantahan legacy yang bermutu dan berarti.

Reporter        : Shaheeda Karabuk

Leave a Reply