August 8, 2022
dialog-interaktif-mengenal-nazhir-wakaf-di-indonesia

Ponorogo – Kamis, 3 Februari 2022 M yang bertepatan dengan 2 Rajab 1443 H telah terlaksana Dialog Interaktif dengan tema “Mengenal Nazhir Wakaf di Indonesia”. Acara ini diselenggarakan oleh Suargo FM (Suara Gontor) pada pukul 09:00 – 10:30 WIB di radio suara gontor FM.

Acara ini merupakan acara rutin yang diselenggarakan oleh Suargo FM. Pemateri acara ini yaitu Al-Ustadz Alfarid Fedro, S.Ag., M.H selaku Ketua Divisi Edukasi Publik dan Literasi Wakaf dan Dosen Universitas Darussalam Gontor.

Adapun topik pembahasannya tentang:

  1. Siapa itu Nazhir wakaf?
  2. Landasan Fiqh dan Hukum Positif
  3. Syarat-syarat menjadi Nazhir
  4. Jenis-jenis Nazhir di Indonesia
  5. Kewajiban dan Hak Nazhir

Secara etimologi terminology Nazhir berasal dari kata ينظر نظر berarti melihat, memandang, memperhatikan sesuatu. Dalam konteks wakaf, Nazhir diartikan sebagai pihak yang melakukan pemeriksaan atau pihak yang memeriksa suatu obyek wakaf atau disebut juga dengan pengurus, pemelihara, penjaga amanah wakaf.  Sedangkan terma lain yang digunakan selain Nazdir adalah al-mutawalliy yang diartikan pihak yang diberikan wilayah atau kuasa, dan juga al-Qoyyim yaitu pihak yang mengelola.

Secara fiqh, Nazhir wakaf bisa dilihat dari rukun wakaf itu sendiri, walaupun Nazhir tidak termasuk kedalam rukun wakaf menurut jumhur ulama (Azzuhaily: 7605) Rukun Wakaf menurut jumhur ulama: waqif, mauquf, mauquf alaihi, dan shigah (ijab wa qobul).

Menurut hukum positif berdasarkan PP no 42 tahun 2006 tentang pelaksanaan UU no 41 tahun 2004 tentang wakaf Nazhir yaitu pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.

Adapun Jenis Nazhir yang ada di Indonesia sesuai UU 41 tahun 2004 tentang Wakaf, jenis Nazhir dibagi menjadi 3 jenis. Perorangan, Organisasi dan Badan Hukum. Perorangan sebagaimana dimaksud hanya dapat menjadi Nazhir apabila memenuhi persyaratan:

  1. warga negara Indonesia;
  2. beragama Islam;
  3. dewasa;
  4. amanah;
  5. mampu secara jasmani dan rohani; dan
  6. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

Sedangkan Organisasi sebagaimana dimaksud, hanya dapat menjadi Nazhir apabila memenuhi persyaratan:

  1. pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan
  2. organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam.

Dan Nazhir wakaf Badan hukum sebagaimana dimaksud, hanya dapat menjadi Nazhir apabila memenuhi persyaratan:

  1. pengurus badan hukum yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan
  2. badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
  3. badan hukum yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam.

Oleh: Sekretariat ICAST UNIDA Gontor

Leave a Reply